Make your own free website on Tripod.com
[Home] [Cara Promosi] [What's New] [Search Engine] [Pendahuluan] [Apa Itu Saham?] [Mengenal Saham] [Security] [Analisa] [Sumber Daya Informasi] [Panduan Investasi] [Alat Bantu]

Apa Itu Saham??

Saham adalah surat berharga yang merupakan tanda kepemilikan seseorang atau badan terhadap suatu perusahaan.

Perusahaan dapat menerbitkan 2 jenis saham, yaitu saham biasa dan saham preferen.

Saham biasa merupakan pemilik sebenarnya dari perusahaan. Mereka menanggung risiko dan mendapatkan keuntungan. Pada saat kondisi perusahaan jelek, mereka tidak menerima dividen. Dan sebaliknya, pada saat kondisi perusahaan baik, mereka dapat memperoleh dividen yang lebih besar bahkan saham bonus. Pemegang saham biasa ini mempunyai hak suara dalam RUPS (rapat umum pemegang saham) dan ikut menentukan kebijakan perusahaan. Jika perusahaan dilikuidasi, pemegang saham biasa akan membagi sisa aset perusahaan setelah dikurangi bagian pemegang saham preferen.

Selain saham biasa kita juga mengenal adanya saham preferen. Sesuai namanya, saham preferen ini mendapatkan hak istimewa dalam pembayaran dividen dibanding saham biasa.

Pemegang saham preferen akan memperoleh hak untuk memperoleh dividen yang tetap (fixed rate) setiap tahunnya. Jika perusahaan pada suatu tahun tidak mampu membagikan deviden, hak deviden pemegang saham preferen akan diakumulasikan. Bila perusahaan jatuh bangkrut dan dilikuidasi, pemegang saham preferen akan mendapatkan pembayaran dari sisa aset perusahaan sebelum pemegang saham biasa.

Sebagai imbal balik dari hal di atas, biasanya pemegang saham preferen memiliki hak suara yang terbatas atau dikurangi. Contohnya, tidak memiliki hak suara dalam RUPS atau menentukan kebijakan perusahaan.


Mengapa Perusahaan Go-Public?

Perusahaan mempunyai berbagai alternatif sumber pendanaan, baik yang berasal dari dalam maupun yang berasal dari luar perusahaan. Alternatif pendanaan dari dalam perusahaan, umumnya berupa laba yang ditahan perusahaan. Sedangkan alternatif pendanaan dari luar perusahaan dapat berupa penyertaan dalam bentuk saham atau hutang dari kreditur atau dengan penerbitan obligasi.

Pada pedoman investasi saham ini kita hanya akan membahas investasi saham bagi perusahaan yang sudah go-public, yaitu perusahaan yang sudah menjual sahamnya ke masyarakat umum. Di Indonesia istilah perusahaan go-public ini disebut sebagai perusahaan terbuka (Tbk). Untuk dapat go-public, perusahaan perlu memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan diantaranya:


  • Pernyataan pendaftaran emisi telah dinyatakan efektif oleh Bapepam.
  • Laporan Keuangan diaudit akuntan terdaftar di Bapepam dengan pendapat Wajar Tanpa Kualifikasi (WTK) untuk tahun buku terakhir.
  • Minimal jumlah saham yang dicatatkan 1 juta saham.
  • Jumlah pemegang saham minimal 200 permodal (1 pemodal memiliki sekurang-kurangnya 500 saham).
  • Telah berdiri dan beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun
  • Secara akuntansi telah mencatat laba/rugi operasional
  • Secara ekonomis telah memperoleh pendapatan/biaya yang berhubungan dengan operasi pokok.
  • Anggota Direksi dan Komisaris memiliki reputasi yang baik.

    Saham perusahaan terbuka ini diperdagangkan di bursa saham (pasar sekunder) atau disebut juga bursa efek. Penjualan saham ke masyarakat pada awalnya melalui proses penawaran saham (pasar perdana) atau sering disebut IPO (Initial Public Offering).

    Perusahaan yang akan IPO ini terlebih dahulu menerbitkan prospektus yang antara lain menjelaskan mengenai kegiatan usaha, komposisi pemegang saham sebelum dan setelah IPO, jumlah saham yang akan dijual, harga penawaran, laporan keuangan beberapa tahun terakhir, risiko usaha, maksud penggunaan dana IPO, dll.

    Anda sebaiknya mempelajari terlebih dahulu prospektus ini sebelum mengambil keputusan membeli atau tidak saham yang akan IPO tersebut.

    Bila kita ingin membeli saham yang akan IPO, pada periode pemesanan, kita perlu mengisi formulir pemesanan dengan melampirkan fotocopy tanda pengenal diri di lokasi pemesanan yang ditentukan. Kita harus membayar nilai pemesanan saham ke perusahaan sekuritas yang menjadi agen penjual saham IPO tersebut. Tidak semua perusahaan sekuritas yang menjadi agen penjual saham IPO.

    Ada kalanya jumlah pemesanan saham yang akan IPO ini melebihi jumlah saham yang akan dijual (oversubscribe). Jika terjadi hal ini, para penjamin IPO saham akan melakukan penjatahan kepada para pemesan yang ada.

    Jika kita hanya memperoleh sebagian dari saham yang dipesan, kita akan memperoleh pengembalian uang sisa pemesanan dalam suatu periode waktu tertentu. Periode waktu pengembalian uang ini biasanya tercantum pada prospektus penawaran saham IPO ini.

    Selain prosedur IPO di atas, baru-baru ini telah ditawarkan saham perdana melalui proses book building. Pada sistem book building ini harga saham IPO akan diserahkan kepada investor-investor yang memberi harga terbaik.

    Contoh, pada penawaran perdana saham Indosiar Visual Mandiri dimana akhirnya harga perdananya ditetapkan Rp 650.

    
    Risiko dan Keuntungan Investasi Saham
    
    "High gain, high risk"

    Istilah ini sering kita dengar dalam dunia investasi, khususnya dalam investasi saham. Memang risiko dalam investasi saham ini jauh lebih tinggi dibandingkan tabungan maupun deposito yang saat ini dijamin pemerintah. Namun, saham juga memiliki potensi tingkat keuntungan yang lebih besar.

    Sebelum melihat potensi keuntungan saham, mari kita lihat terlebih dahulu faktor resiko kerugian dalam investasi saham. Walaupun kita telah melakukan diversifikasi saham ke sejumlah sektor yang ada, namun tidak berarti risiko kerugian investasi saham dapat teratasi.

    Dalam dunia investasi kita mengenal dua jenis risiko, yaitu risiko sistematik (systematic risk) dan risiko tidak sistematik (unsystematic risk).

    Risiko sistematik mengacu pada risiko pasar, yaitu ketidakpastian hasil perolehan investasi yang dipengaruhi oleh faktor inflasi, pertumbuhan ekonomi, perubahan tingkat suku bunga, dan kondisi politik. Risiko sistematik ini mempengaruhi perusahaan-perusahaan secara keseluruhan.

    Sebagai contoh, risiko sistematik terjadi pada saat kondisi perekonomian terkena resesi atau faktor keamanan suatu negara terganggu. Pada keadaan seperti bisa saja terjadi sejumlah saham yang secara fundamental kondisinya baik, namun harganya turun drastis.

    Sedangkan risiko tidak sistematik mengacu pada faktor risiko yang unik pada setiap perusahaan. Contohnya, mogok kerja yang terjadi di suatu perusahaan selama jangka waktu tertentu akan mengurangi atau menghentikan proses produksi perusahaan tersebut. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya pendapatan dan laba perusahaan tersebut.

    Risiko tidak sistimatik ini dapat dikurangi dengan melakukan diversifikasi investasi di sejumlah perusahaan yang tidak berasal dari sektor yang sejenis.

    Risiko sistimatik dan tidak sistimatik di atas dapat menimbulkan kerugian investasi yang biasa disebut capital loss. Capital loss ini terjadi jika harga beli suatu saham lebih tinggi dari harga jual saham tersebut.

    Contoh, investor B membeli saham ABCD dengan harga Rp 1.000,-/ lembar sebanyak 20 lot (10.000 lembar), dan dia menjual saham tersebut pada harga Rp 800/lembar. Investor B menderita kerugian, capital loss, sebesar 10.000 x (800-1.000) =Rp 2 juta atau 20 % dari nilai pembeliannya.

    Namun, jika pada harga Rp 800 tersebut investor B belum menjual sahamnya, sebetulnya ia mencatat unrealized loss sebesar Rp 2 juta. Unrealized loss merupakan potensi kerugian yang belum direalisasikan karena sahamnya belum dijual.

    Sebaliknya, keuntungan saham dapat diperoleh dari capital gain dan dividen. Capital gain terjadi jika harga jual saham lebih tinggi dibandingkan harga belinya.

    Selain capital gain, pendapatan investasi saham juga dapat diperoleh dari dividen. Dividen adalah pembagian bagian keuntungan perusahaan kepada para pemegang saham. Besarnya dividen yang dibagikan perusahaan ditentukan oleh para pemegang saham pada saat berlangsungnya RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham).

    Perusahaan belum tentu membagikan dividen, walaupun perusahaan tersebut mencatat keuntungan atau laba. Hal ini disebabkan di antaranya karena perusahaan ingin melakukan ekspansi usaha atau mengurangi beban hutang perusahaan.

    Tetapi, bisa saja suatu perusahaan yang mengalami kerugian dapat membagikan dividen. Dana untuk dividen ini dapat berasal dari laba yang ditahan perusahaan tersebut.

    Dalam perhitungan dividen ini, kita kenal istilah dividend yield dan dividend payout ratio. Dividend yield merupakan rasio dari dividen yang diberikan ke pemegang saham dan harga saham:

    
    
    
    
    Nilai Dividen per Saham x 100%
    Harga Saham

    Dividend payout ratio merupakan perbandingan dari dividen yang diberikan ke pemegang saham dan laba bersih per saham.

    
    
    
    
    Nilai dividen per Saham x 100%
    Laba Bersih per Saham
    Contoh:

    PT Gudang Garam Tbk (GGRM) pada pertengahan tahun 2000 membagikan dividen untuk tahun buku 1999 sebesar Rp 500. Jika harga saham GGRM Rp 15.800 dan laba bersih per saham Rp 1.183,23 maka:
    --->Dividend yield= 3,16 %
    --->Dividend payout ratio= 42,26 %

    Dividen memang lazimnya berupa pembagian dana cash, namun terkadang perusahaan membagikan dividen dalam bentuk saham. Hal ini dikenal dengan istilah dividen saham.

    Berkaitan dengan dividen, kita kenal juga istilah dividen interim, yaitu pembagian dividen oleh perusahaan sebelum tahun buku laporan keuangannya ditutup. Dividen interim ini akan diperhitungkan pada saat pembagian dividen tahunan perusahaan tersebut.

    Contoh, pada tanggal 19 Desember 2000, GGRM (PT Gudang Garam) membagikan dividen interim untuk tahun buku 2000 senilai Rp 500 kepada para pemegang sahamnya. Seandainya dalam RUPS yang diadakan pada akhir juni 2001, ditetapkan pembagian dividen Rp 600 untuk tahun buku 2000, maka pada saat pembagian dividen tersebut, nilai dividen yang akan dibagikan adalah Rp 600 - Rp 500 (dividen interim) = Rp 100.

    Hal lain yang perlu diingat dalam pembagian dividen ini adalah dividen akan dikenakan pajak penghasilan (PPh) yang besarnya ditetapkan oleh pemerintah.

    Mengenal Saham Lebih Jauh
    Halaman Selanjutnya